« Pidato Steve Job di Acara Wisuda Stanford University | Main | HASRAT UNTUK BERUBAH »
www.hanungbayu.com, dokumen hidup dan media introspeksi diri
By Hanungbayu | May 10, 2009
Sebenarnya sudah sejak lama saya memiliki personal website www.hanungbayu.com, tetapi saya masih bingung mengisinya karena belum mempunyai tujuan yang jelas. Terkadang terinspirasi personal web milik Pak Asto pendiri MARS, milik Prof. Martani Huseini, masiqbal.com, yokikuncoro.com, dsb. Namun harus diakui, kualitas tulisan mereka jauh diatas saya, hingga akhirnya saya malah tidak menulis apapun karena merasa harus tulisan yang great yang layak tampil di hanungbayu.com.
Kamis, 26 Maret 2009, pukul 09.05, berdering HP dari pemalang. Mengabarkan sebuah berita duka atas meninggalnya ayah tercinta. Berita yang sangat mengejutkan karena beliau pergi mendadak tanpa ada berita sakit atau apapun. Dalam perjalanan dari Depok menuju Pemalang, saya teringat dalam beberapa hari terakhir ini kok memang saya merasa bangga pada ayah saya. Beliau membesarkan kami bertiga anak-anaknya dengan baik, dan saya sangat tahu Insya Allah dengan uang yang halal dan berkah. Disamping mengajarkan ibadah yang sifatnya ritual, beliau juga sangat keras mengajarkan kepada kami semua untuk jujur, jangan pernah berbohong, jangan pernah KKN, disiplin menghargai waktu, mencari nafkah keluarga dengan cara yang baik dan halal, senantiasa berbuat kebaikan, berani menyampaikan kebenaran walau hanya 1 ayat dan menegakkan amar makruf nahi mungkar, serta bermanfaat bagi banyak orang.
Ajaran-ajaran beliau ini menguatkan saya yang ditinggal. Sehingga perasaan yang muncul ketika ayah tiada bukanlah kesedihan yang mendalam, namun justru kebanggaan karena beliau semasa hidupnya sudah menjalankan tugas dan perannya dengan baik, menjalankan AlQuran serta Al Hadits dalam kesehariannya, serta Insya Allah pergi dengan cara yang baik. Apalagi menyaksikan lautan manusia yang datang melayat, mensholatkan. dan mengantarkan kepergiannya menuju tempat peristirahatan terakhir. Betapa banyak orang yang mencintai dan merasa kehilangan beliau.
Pada saat itulah, saya mendengar banyak cerita dari pelayat tentang beliau. Tentang bagaimana beliau teguh memperjuangkan kebenaran walau berakibat tidak disukai oleh “lingkungan yang kotor”, tidak pernah mengejar jabatan dan kesenangan duniawi, menggratiskan pasien yang tidak mampu, peduli terhadap kaum papa dengan berzakat dan bersedekah, bahkan malam sebelumnya sempat menanyakan beberapa tukang becak yang mangkal di depan rumah apakah sudah ada beras buat besok dan langsung mengambilnya buat mereka.
Situasi ini menyadarkan saya, beliau sangat dicintai karena perbuatan dan suri tauladannya selama ini. Kemudian saya pun introspeksi diri, betapa saya belum bisa menjadi seperti beliau. Taraf saya masih pada memikirkan diri sendiri, belum bisa banyak bermanfaat bagi orang lain. Padahal kemuliaan seseorang di dunia dan akhirat adalah ketika hidup kita bermanfaat bagi sesama makhluk ciptaan-Nya.
Dari peristiwa inilah saya terlecut untuk bisa meneruskan perjuangan dan kebaikannya. Saya mendapatkan inspirasi untuk mendayagunakan personal website ini sebagai sarana untuk menyampaikan pengetahuan dan pengalaman selama ini dengan harapan banyak orang dapat mengambil manfaat dan hikmah dari dokumen hidup saya. Selain tentu saja sebagai media introspeksi diri saya pribadi.
Topics: Uncategorized |
June 22nd, 2009 at 11:15 am
“Kereta bukanlah kereta sebelum ia dijalankan.
Nyanyian bukanlah nyanyian sebelum ia dinyanyikan.
Genta bukanlah genta sebelum ia dibunyikan, dan……..
Cinta bukanlah cinta sebelum ia dilaksanakan”.
Dear Hanung,
Berbahagialah karena mendapat warisan yang luar biasa dari ayahmu, yaitu cinta yang telah dilaksanakan.